Cara Fermentasi Pupuk Kandang dengan proses lebih cepat, dan kandungan unsur haranya lebih lengkap.

Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan ternak (kohe) seperti sapi, kambing, ayam, kelinci dan lain sebagainya.

Kotoran hewan ternak baru bisa dijadikan pupuk bagi tanaman setelah kering dan lapuk menjadi tanah. Akan tetapi, butuh waktu yang sangat lama sebelum bisa digunakan.

Fermentasi pupuk kandang merupakan salah satu cara agar kohe bisa lebih cepat terurai dan bisa digunakan sebagai pupuk. Biasanya, kohe yang difermentasi akan siap digunakan dalam 2-5 minggu.

Proses fermentasi ini melibatkan mikroorganisme pengurai sehingga proses pengomposan bisa lebih cepat. Ada beberapa jenis mikroba pengurai yang terbukti mampu menguraikan bahan organik lebih cepat dari mikroba lainnya, salah satunya adalah bakteri MA-11.

Dengan menggunakan bakteri ini, proses fermentasi pupuk kandang bisa dilakukan dalam waktu 7-14 hari saja.

Pada dasarnya, di dalam pupuk kandang sudah terdapat hampir semua unsur hara esensial yang dibutuhkan tanaman baik makro maupun mikro, akan tetapi agar lebih maksimal lagi, perlu ditambahkan beberapa bahan organik lain, saya bisanya menambahkan kompos daun bambu, karena memiliki beberapa kelebihan dibandingkan bahan organik lainnya.

Alat dan Bahan

  • Kotoran hewan yang sudah kering, bisa menggunakan kohe sapi, kambing, ayam, kelinci atau gabungan beberapa kohe ternak, sebanyak satu karung
  • Kompos daun bambu 1/2 karung
  • Kapur dolomit secukupnya, saya bisa menggunakan untuk satu karung sebanyak 0.5-1kg dolomit
  • Urin sapi, atau kelinci 1 liter.
  • Bakteri MA-11 dan cairan gula merah masing-masing 10 cc
  • Air 5 liter atau secukupnya
  • Gembor dan
  • Karung untuk menyimpan bahan yang difermentasi

Kapur dolomit bisa diganti dengan abu sisa pembakaran, karena fungsinya untuk menetralkan PH dan sebagai sumber kalsium. Jika ada arang sekam padi atau arang dari serbuk kayu, bisa ditambahkan kedalam campuran kohe.

Proses Pembuatan

Pertama, campurkan kohe, dan kompos daun bambu, aduk sampai bercampur dengan rata, kemudian taburkan dolomit/abu sisa pembakaran secara merata, aduk kembali agar merata.

Kedua, campurkan urin, bakteri ma-11, dan cairan gula merah kedalam 5 liter air, aduk sampai tercampur rata dan diamkan minimal 10 menit sebelum digunakan. Masukkan campuran air yang sudah siap ke dalam gembor.

Sebagian petani memberikan aerasi terlebih dahulu menggunakan aerator pada campuran air, urin, bakteri dan gula merahnya, agar bakteri bisa berkembang lebih banyak sebelum dicampurkan kedalam kohe. Jika Anda memiliki mesin aerator, sebagaiknya mengikuti langkah ini.

Ketiga, masukkan campuran kohe dan kompos daun bambu kedalam karung sedikit demi sedikit. Setiap kali karung terisi campuran kohe dengan ketebalan 10-15 cm siramkan campuran bakteri dekomposernya sampai basah merata, begitu seterusnya sampai karung terisi penuh.

Keempat, tutup bagian atas karung dengan cara diikat, atau dengan cara lainnya, simpan ditempat yang teduh, dan tunggu selama 7 hari sebelum digunakan.

Video Proses Fermentasi Kotoran Hewan

Demikian, jika ada yang masih kurang jelas dan perlu didiskusikan, jangan sungkan untuk meninggalkan pesan Anda pada kolom komentar, salam organik, lombok organik!

Kiral

Hobi dalam dunia pertanian dan peternakan, terutama yang dilakukan secara organik. Tidak ada pendidikan formal terkait pertanian, pernah menempuh pendidikan di jurusan teknik komputer. Menjadi web designer di Sasambo Design, dan sebagai penggagas berdirinya Lombok Organik