Rockwool adalah media tanam pada pertanian sistem hidroponik. Harganya memang tidak terlalu mahal, akan tetapi jika ada alternatif pengganti rockwool yang bisa menjadi media tumbuh tanaman, tentu bisa menghemat biaya produksi.

Buah gambas, atau yang biasa dikenal dengan Oyong, merupakan sumber tidak terbatas yang bisa dimanfaatkan sebagai media tanam hidroponik.

Oyong yang masih muda sering dijadikan sebagai sayur, biasanya ditumis, atau dijadikan campuran pada sayur bening dan masakan lainnya. Jika sudah tua, Oyong akan memiliki sabut yang kasar dan agak keras, sabut inilah yang akan kita manfaatkan sebagai alternatif pengganti rockwool. Sabut oyong ini biasanya juga dimanfaatkan sebagai sponge mandi alami.

Video cara mengolah sabut oyong menjadi media tanam alternatif hidroponik.

Oyong merupakan jenis tanaman merambat seperti tanaman labu, dalam satu batang bisa berbuah banyak dan umur tanaman ini biasanya lama, apalagi jika ditanam pada media tanam yang subur.

Menanam 2 sampai 3 batang saja, sudah cukup memenuhi kebutuhan instalasi hidroponik sekala rumahan.

Kelebihan sabut oyong sebagai alternatif pengganti rockwool

Saya pernah mencoba kapas (sabut kapas dari buah kapasnya langsung) sebagai media tanam laternatif pada instalasi hidroponik, tanaman bisa tumbuh dengan cukup baik, akan tetapi setelah beberapa waktu terendam cairan nutrisi hidroponik, kapasnya menjadi busuk dan lapuk, sehingga mengotori cairan nutrisi hidroponiknya.

Sabut kelapa mungkin bisa digunakan sebagai media tanam hidroponik, saya belum pernah coba, akan tetapi pada sabut kelapa banyak bagian diantara serat sautnya yang bisa terlepas dan bisa mengotori cairan nutrisinya, mungkin pada kesempatan berikutnya kita akan melakukan ujicoba menggunakan sabut kelapa.

Berikut kelebihan sari sabut oyong sebagai alternatif pengganti rockwool

  • Tahan lama, dan tidak mudah busuk walaupun terendam dalam waktu yang lama.
  • Bisa mengantarkan air dengan cukup baik
  • Bahan baku melimpah, karena tanaman ini berbuah banyak dan pertumbuhan sangat cepat.
  • Mengurangi limbah anorganik (ecofarming), karena rockwool setelah terpakai, tidak bisa langsung diurai tanah.

Cara Membuat Sabut Oyong Sebagai Media Tanam Hidroponik

sabut oyong pengganti rockwool
potong sabut oyong sesuai ukuran netpot

Pertama, buah gambas yang sudah tua, dipisahkan kulit dengan sabutnya. Prosesnya tidak sulit, karena kulit oyong sangat mudah terlepas dari sabutnya.

Setelah kulit terlepas, keluarkan biji dari sabut oyongnya, caranya cukup dengan mengayunkan atau membenturkannya ke benda keras, maka bijinya akan keluar dengan mudah.

Langkah kedua, ini sebenarnya opsional, masak sabut oyong dengan air mendidih selama kurang lebih 5-10 menit, bisa juga dibilas dengan air biasa. Tujuannya agar kadar kalium pada sabut oyong bisa berkurang, karena pada setiap buah tanaman biasanya mengandung kalium yang cukup tinggi, dimana kalium bisa menghambat perkecambahan biji tanaman.

Tujuan memasak lainnya adalah agar sabut oyong nanti tidak mengeluarkan bau, karena terendam cairan nutrisi dalam waktu yang lama.

Ketiga, potong sabut oyong sesuai ukuran netpot, misalkan untuk netpot 5cm, potong sabut oyong dengan ukuran 3-4 cm.

Selanjutnya, masukkan sabut oyong kedalam netpot, kemudian ditaruh didalam nampan yang sebelumnya sudah diisi dengan air 1/3 dari ukuran nampan.

Atur posisi netpot yang sudah terisi dengan sabut oyong pada nampan agar bisa menampung lebih banyak.

Terakhir, masukkan biji tanaman yang akan dibibitkan menggunakan sabut oyong, tunggu 2 sampai 3 hari, maka biji akan membelah dan tumbuh tunas. Butuh waktu satu sampai dua minggu sebelum bisa dipindahkan ke instalasi hidrponik.

Demikian langkah memanfaatkan sabut oyong sebagai alternatif pengganti rockwool, semoga bermanfaat.

Kiral

Hobi dalam dunia pertanian dan peternakan, terutama yang dilakukan secara organik. Tidak ada pendidikan formal terkait pertanian, pernah menempuh pendidikan di jurusan teknik komputer. Menjadi web designer di Sasambo Design, dan sebagai penggagas berdirinya Lombok Organik